Make your own free website on Tripod.com

SIKAP TUTOR PGSD UNIVERSITAS TERBUKA TERHADAP PROGRAM TUTORIAL

Teguh

(Universitas Terbuka)

 .

Yuliani Narzet

(Universitas Terbuka)

 http://pk.ut.ac.id/jp/52sept04/52teguh.htm, Sabtu, 18 Maret 2006


Universitas Terbuka (UT) sebagai perguruan tinggi penyelenggara pendidikan jarak jauh banyak mengandalkan proses belajar mengajar pada para mahasiswa dan dibantu oleh para tutor. Untuk mahasiswa Program Penyetaraan D2 Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Guru Kelas, Penjaskes, dan S1 PGSD kegiatan pembelajaran yang dilakukan terdiri dari belajar mandiri, tutorial, praktek/praktikum, dan Pemantapan Kemampuan Mengajar (PKM) bagi mahasiswa D2 PGSD atau Pemantapan Kemampuan Profesional (PKP) bagi mahasiswa S1 PGSD.

Tutorial merupakan program bantuan dan bimbingan belajar yang bertujuan untuk memicu dan memacu proses belajar mandiri mahasiswa. Bentuk kegiatan tutorial tatap muka selama ini dilaksanakan atas kerjasama UT dengan pengelola daerah. Para tutor untuk Program D2 PGSD direkrut dari dosen UT yang ada di UPBJJ dan para guru SD, SMP,  SMA,  pengawas  atau  dosen  perguruan  tinggi  lain  yang ada di wilayah tersebut. Untuk Program S1 PGSD, para tutor meliputi para dosen UT yang ada di UPBJJ dan dosen dari perguruan tinggi pembina.

Perbedaan jenjang dan jenis program serta latar belakang tutor ini, menyebabkan timbulnya perbedaan sikap para tutor terhadap program tutorial. Hal ini terlihat dari cara para tutor memberikan tutorial di beberapa kelompok belajar. Para tutor memberikan ceramah kepada para mahasiswa layaknya dosen memberikan kuliah, sehingga para mahasiswa tidak terlibat secara aktif dalam mengikuti tutorial yang diselenggarakan. Nampaknya, penyebab hal ini adalah tidak siapnya para tutor dalam memberikan materi tutorial atau para mahasiswa kurang siap dan kurang motivasi belajar yang dapat mengakibatkan banyak mahasiswa tidak selesai tepat waktu.

Hasil pengamatan di lapangan di saat tutorial, para mahasiswa tidak bersemangat dalam mengikuti tutorial. Keadaan ini dapat dilihat dari tidak adanya mahasiswa yang bertanya tentang materi modul. Seharusnya para tutor inilah yang diharapkan dapat memotivasi para mahasiswa dalam mengikuti tutorial dan dalam memahami materi modul sehingga mahasiswa termotivasi untuk belajar dan dapat menguasai materi modul dengan lebih baik. Oleh karena itulah UT mewajibkan para mahasiswa untuk mengikuti kegiatan tutorial (UT, 2002). Walaupun tutorial bersifat wajib, namun kegiatan tutorial nampaknya tidak begitu aktif terutama bagi beberapa mahasiswa yang terkadang tidak hadir dalam kegiatan tutorial. Meskipun demikian, hasil ujian akhir semester (UAS) mahasiswa tersebut cukup baik dibandingkan dengan hasil UAS mahasiswa yang mengikuti kegiatan tutorial.

Dalam kegiatan tutorial, sikap mahasiswa cukup positif. Hasil penelitian Martini (1994) menunjukkan bahwa sikap mahasiswa D2 PGSD baik Proyek dan Swadana, positif terhadap Program Penyetaraan D2. Dalam arti para mahasiswa sangat mendukung penyelenggaraan program termasuk di dalamnya program tutorial. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti sikap para tutor dalam program tutorial Program D2 baik proyek, swadana, maupun penjaskes serta Program S1 PGSD. Apalagi saat ini para tutor untuk Program D2 diberi wewenang untuk membuat atau menyusun dan memberikan nilai tugas mandiri matakuliah yang ditutorkan dan untuk Program S1 PGSD para tutor diberi wewenang untuk memberikan nilai tugas tutorial tatap muka rancangan khusus (TTMRK) ini dengan kontribusi 30% terhadap nilai akhir mahasiswa.

Berdasarkan situasi tersebut, dilakukan penelitian dengan tujuan: (1) melihat sikap tutor PGSD secara keseluruhan terhadap program tutorial Program Penyetaraan D2 dan Program S1 UT, (2) melihat perbedaan sikap dari kelompok tutor PGSD (D2 Proyek, D2 Swadana, D2 Penjaskes, dan S1) terhadap program tutorial Program D2 dan S1.

Penelitian dilakukan di Propinsi Sumatera Selatan. Populasi adalah seluruh tutor PGSD (S1 dan D2 Proyek, Swadana, dan Penjaskes) yang menjadi tutor di kelompok belajar di kecamatan/kabupaten/kota penyelenggara Program D2 dan S1 PGSD dalam wilayah Propinsi Sumatera Selatan.

Pengumpulan data melibatkan seluruh populasi (lihat Tabel 1).

Tabel 1. Kecamatan Penyelenggara Program PGSD dalam Propinsi Sumatera Selatan yang dijadikan Sampel

No

Kecamatan/Kabupaten/Kota

Kelompok Mahasiswa

Jumlah

Swadana

Proyek

Penjaskes

S1

1

Muara Dua/OKU

0

3

5

0

8

2

Belitang/OKU

3

0

0

0

3

3

Buay Madang/OKU

3

0

5

0

8

4

Martapura/OKU

0

3

0

0

3

5

Kota Lahat/Lahat

3

0

0

8

11

6

Pagaralam

3

0

0

0

3

7

Pendopo Lintang/Lahat

0

3

0

0

3

8

Kikim/Lahat

0

3

0

0

3

9

Muara Beliti/Musirawas

0

3

0

0

3

10

Kota Lubuklinggau

0

3

5

0

8

11

Sungaililin/Banyuasin

3

0

0

0

3

12

Musibanyuasin 3/Banyuasain

0

3

0

0

3

13

Talangkelapa/Banyuasin

0

3

0

0

3

14

Betung/Banyuasin

3

0

0

0

3

15

Ilir Timur 1/Palembang

3

0

0

0

3

16

Seberang Ulu 1/Palembang

3

0

0

0

3

17

Sukarame/Palembang

3

0

0

0

3

18

Bukit Besar/UPBJJ Palembang

0

0

0

3

3

19

Lawangkidul/Muaraenim

3

0

0

0

3

20

Gunungmegang/Muaraenim

3

0

0

0

3

21

Prabumulih/Muaraenim

0

3

5

8

16

22

Talangubi/Muaraenim

3

0

0

0

3

23

Kota Muaraenim

3

0

5

0

8

24

Lempuing

3

0

0

8

11

25

Kota Kayuagung

0

0

5

0

5

26

Tanjungbatu

0

3

0

0

3

27

Indralaya

0

3

0

0

3

Jumlah

42

33

30

27

132

 

Data dikumpulkan melalui kuesioner yang disampaikan ke masing-masing responden melalui Kantor Cabang Dinas Diknas Kecamatan untuk tutor D2 proyek, swadana, dan penjaskes, sedangkan untuk tutor S1 disampaikan kepada masing-masing tutor.

Instrumen pengumpul data meliputi komponen sikap yaitu aspek kognitif, afektif, dan konatif. Komponen objek sikap terhadap aspek tugas tutorial, aspek tugas membimbing, aspek status profesional, aspek status ekonomi, aspek status sosial, dan kondisi kerja (lihat pada Tabel 2).  

Tabel 2. Komponen Objek Sikap

Komponen Objek Sikap

Komponen Sikap

Total (%)

Afektif

Kognitif

Konatif

Aspek Tugas Tutorial

6

6

6

18

Aspek Tugas Membimbing

6

6

6

18

Aspek Status Profesional

10

6

-

16

Aspek Status Ekonomi

10

6

-

16

Aspek Status Sosial

10

6

-

16

Aspek Kondisi Kerja

10

6

-

16

Jumlah

52

36

12

100

 

Sikap tutor PGSD tercermin dalam jawaban yang diberikan di kuesioner yang mengandung unsur kognitif, afektif dan konatif. Skala disajikan dalam lima pilihan sangat setuju (SS), setuju (S), ragu (RG), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Masing-masing skala tersebut diberi skor 5, 4, 3, 2, dan 1 untuk pernyataan positif, dan 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk pernyataan negatif.

Jawaban yang diperoleh dari kuesioner yang memuat komponen kognitif, afektif, dan konatif dianalisis dengan menggunakan prosentase responden, rataan item dan simpangan baku, dan ANOVA pembanding ganda Scheffe untuk melihat perbedaan sikap dari masing-masing kelompok tutor PGSD.

Seluruh kuesioner, yaitu sebanyak 132 kuesioner ditujukan untuk tutor D2 PGSD yang terkelompok menjadi 42 tutor Swadana, 33 tutor Proyek, 30 tutor Penjaskes dan 27 tutor S1 PGSD, ternyata kuesioner yang kembali adalah sebanyak 25 kuesioner tutor D2 Proyek, 30 kuesioner tutor D2 Swadana, 15 kuesioner tutor Penjaskes dan 13 kuesioner tutor S1 PGSD.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Sikap Tutor D2 PGSD Proyek terhadap Program Tutorial PGSD

Para tutor D2 PGSD proyek cenderung setuju dengan program tutorial. Sikap tersebut dapat dilihat dari skor rata-rata sikap mereka yaitu 3.99. Hal ini didukung dengan rendahnya skor pernyataan nomor 5, 19, 21, 22 dan 24 dan tingginya skor pernyataan nomor 1, 2, 6, 10, dan 15.

Pernyataan yang mendapat skor rendah adalah pernyataan nomor 5: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD UT sebaiknya dilakukan seperti kuliah saja”. Para tutor D2 PGSD Proyek telah mendapatkan penataran tentang bagaimana seharusnya menyelenggarakan tutorial sehingga mereka menyatakan bahwa tutorial berbeda dengan kuliah. Tutorial tidak perlu dilakukan seperti halnya kuliah. Pengetahuan para tutor tentang bagaimana melaksanakan tutorial mempengaruhi sikap mereka terhadap pernyataan ini. Pernyataan nomor 19: “menurut saya dari segi ekonomi, honorarium tutor Program PGSD kurang memadai”. Pernyataan nomor 21: “honorarium tutorial Program PGSD cepat dan lancar sehingga membuat saya senang menjadi tutor PGSD”. Pernyataan nomor 22: “honorarium tutorial Program PGSD kecil dan lambat keluarnya membuat saya tidak senang”. Pernyataan nomor 24: “honorarium tutorial Program PGSD tidak sesuai dengan jerih payah saya”. Pernyataan-pernyataan ini berkaitan dengan honorarium yang mereka terima. Honorarium ini sangat dibutuhkan oleh para tutor sebagai  penghargaan atas jerih payah yang mereka keluarkan untuk memberikan bimbingan belajar kepada para mahasiswa. Para tutor memberikan skor yang rendah untuk pernyataan-pernyataan tersebut atau dapat dikatakan para tutor cenderung tidak dapat memutuskan sikap terhadap pernyataan yang diberikan tersebut. Hal ini terjadi karena para tutor mengharapkan honorarium tutorial D2 proyek lebih tinggi dan lebih cepat dapat mereka terima, tetapi terkadang agak lama baru dapat diterima dan jumlahnya pun terkadang juga kecil, sehingga mereka cenderung tidak dapat memutuskan.

Adapun pernyataan-pernyataan yang mendapat skor tinggi adalah pernyataan nomor 1: “jika saya diminta untuk menjadi tutor Program PGSD saya bersedia karena menambah wawasan saya dalam mengajar”. Pada pernyataan ini semua responden menyatakan setuju untuk menjadi tutor bila mereka diminta. Para tutor biasanya diminta oleh pengelola untuk menjadi tutor matakuliah tertentu  di kecamatan/kabupatan/kota penyelenggaraan Program D2. Pernyataan nomor 2: “jika saya diminta untuk memberikan tutorial pada Program PGSD saya tidak mau karena tutorial merupakan pekerjaan yang membosankan”. Sesuai dengan pernyataan nomor 1, pada pernyataan nomor 2 ini, mereka memberikan skor tinggi karena mereka beranggapan tutorial itu bukan merupakan pekerjaan yang membosankan dan mereka mau menjadi tutor apabila diminta. Pernyataan ini merupakan suatu komitmen bagi para tutor sehingga para pengelola tidak perlu khawatir ketidaksediaan para tutor memberikan tutorial di tempat penyelenggaraan Program D2. Pernyataan nomor 6: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD perlu ditingkatkan kualitasnya”. Ya, melihat di lapangan nampaknya program tutorial perlu peningkatan partisipasi mahasiswa dalam kegiatan tutorial. Banyak mahasiswa kurang siap dalam mengikuti kegiatan tutorial. Para mahasiswa tidak membaca modul sebelum kegiatan tutorial berlangsung. Para tutor ini diharapkan dapat memberikan movitasi kepada para mahasiswa sehingga mahasiswa mengikuti tutorial dan membaca modul sebelum kegiatan tutorial dilaksanakan. Pernyataan nomor 10: “saya tidak senang membimbing mahasiswa PGSD karena banyak menyita waktu saya”. Pada pernyataan ini, semua tutor senang memberikan bimbingan kepada para mahasiswa. Memang para mahasiswa membutuhkan bimbingan dalam belajar. Dan pernyataan nomor 15: “saya suka menjadi tutor Program PGSD karena sesuai dengan profesi saya sebagai dosen/guru/tenaga pendidik”. Para tutor adalah para guru, dosen, ataupun para pendidik yang ada di jajaran diknas, sehingga memang menutor sangat sesuai dengan profesi mereka.

Dari pembahasan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa para tutor Program D2 proyek mempunyai sikap setuju dengan diadakannya program tutorial.

Sikap Tutor D2 PGSD Swadana terhadap Program Tutorial PGSD

Sikap tutor D2 swadana cenderung setuju dengan program tutorial PGSD dengan skor rata-rata adalah 3.90. Kecenderungan setuju tersebut didukung oleh  rendahnya pernyataan nomor 5, 19, 21, 22, dan 24 dan tingginya skor pernyataan nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 17, 27, 28, 30, 31, 32, 34, 35 dan 36.

Pernyataan yang mendapatkan skor rendah adalah pernyataan nomor 5: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD UT sebaiknya dilakukan seperti kuliah saja”. Para tutor tidak setuju kalau pelaksanaan tutorial disamakan dengan kuliah, karena memang tutorial berbeda dengan perkuliahan. Para tutor swadana terkadang juga merangkap tutor proyek, sehingga sebagian besar tutor swadana pernah mengikuti kegiatan penataran tutor daerah. Pernyataan nomor 19: “menurut saya dari segi ekonomi, honorarium tutor Program PGSD kurang memadai”. Pernyataan nomor 21: “honorarium tutorial Program PGSD cepat dan lancar sehingga membuat saya senang menjadi tutor PGSD”. Pernyataan nomor 22: “honorarium tutorial Program PGSD kecil dan lambat keluarnya membuat saya tidak senang”. Pernyataan nomor 24: “honorarium tutorial Program PGSD tidak sesuai dengan jerih payah saya”. Para tutor memberikan skor yang rendah untuk pernyataan-pernyataan tersebut atau dapat dikatakan para tutor tidak dapat memutuskan sikap terhadap pernyataan yang diberikan. Ya, honor mau dikatakan kecil tidak enak, dikatakan besar ya juga tidak.

Adapun pernyataan-pernyataan yang mendapat skor tinggi yaitu pernyataan nomor 1: “jika saya diminta untuk menjadi tutor Program PGSD saya bersedia karena menambah wawasan saya dalam mengajar”. Pada pernyataan ini semua responden menyatakan setuju untuk menjadi tutor bila mereka diminta. Pernyataan nomor 2: “jika saya diminta untuk memberikan tutorial pada Program PGSD saya tidak mau karena tutorial merupakan pekerjaan yang membosankan”. Sesuai dengan pernyataan nomor 1, pada pernyataan nomor 2 ini, mereka memberikan skor tinggi karena mereka beranggapan tutorial itu bukan merupakan pekerjaan yang membosankan. Pernyataan nomor 3: “saya suka memberikan tutorial pada Program PGSD karena yang dihadapi adalah orang dewasa”. Pernyataan nomor 4: “saya tidak suka memberikan tutorial pada Program PGSD UT karena mahasiswanya sudah tua dan sulit mengerti”. Pernyataan nomor 6: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD perlu ditingkatkan kualitasnya”. Pernyataan nomor 7: “bagi saya, membimbing mahasiswa PGSD cukup menyenangkan karena mereka sudah dewasa dan cepat mengerti”. Pernyataan nomor 9: “saya senang membimbing mahasiswa PGSD karena saya banyak belajar dari mereka”. Pernyataan nomor 10: “saya tidak senang membimbing mahasiswa PGSD karena banyak menyita waktu saya”. Pernyataan nomor 11: “jika saya diminta untuk membimbing  mahasiswa PGSD saya bersedia karena dapat meningkatkan keterampilan saya”. Pernyataan nomor 12: “saya tidak mau menjadi pembimbing mahasiswa PGSD walaupun diminta”. Pernyataan nomor 13: “menjadi tutor Program PGSD merupakan suatu profesi membanggakan”. Pernyataan nomor 14: “menjadi tutor Program PGSD merupakan profesi yang tidak dapat diandalkan”. Pernyataan nomor 15: “saya suka menjadi tutor Program PGSD karena sesuai dengan profesi saya sebagai dosen/guru/tenaga pendidik”. Pernyataan nomor 16: “saya kurang suka memberikan tutorial Program PGSD karena menjadi tutor hanya sewaktu dibutuhkan saja”. Pernyataan nomor 17: “saya suka memberikan tutorial pada Program PGSD karena itulah memang profesi saya”. Pernyataan nomor 27: “menjadi tutor Program PGSD UT cukup terpandang dalam masyarakat sekitar”. Pernyataan nomor 28: “menjadi tutor Program PGSD kurang dihargai masyarakat”. Pernyataan nomor 30: “tutor Program PGSD sangat dihormati oleh pengelola dan mahasiswa”. Pernyataan nomor 31: “tempat penyelenggaraan tutorial Program PGSD tidak menyenangkan karena di lokal SD setempat”. Pernyataan nomor 32: “saya senang memberikan tutorial Program PGSD karena hubungan antar tutor, pengelola dan UPBJJ sangat baik”. Pernyataan nomor 34: “tempat tutorial Program PGSD sebaiknya di ibukota propinsi/kabupaten sehingga kurang memotivasi”. Pernyataan nomor 35: “tempat tutorial Program PGSD cukup layak bagi mahasiswa untuk belajar”. Pernyataan nomor 36: “tempat tutorial Program PGSD masih dapat dijangkau oleh tranportasi/kendaraan umum”.

Dari pernyataan-pernyataan yang mendapat skor tinggi dapat dikatakan bahwa para tutor bersikap setuju dengan pernyataan yang diberikan.

Sikap Tutor D2 PGSD Penjaskes terhadap Program Tutorial PGSD

Sikap tutor D2 penjaskes cenderung setuju dengan program tutorial dengan skor rata-rata adalah 3.81. kecenderungan ini didukung oleh rendahnya skor pernyataan nomor  9, 19, 21, 22, 23, 24, 27, 28, 31, 33, dan 34 dan tingginya skor pernyataan nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 10, 11, 12, 13, 14, 15, 16, 18, 25, 26, 29, 30, 32, 35, 36.

Pernyataan-pernyataan yang mendapat skor rendah adalah pernyataan nomor 9: “saya senang membimbing mahasiswa PGSD karena saya banyak belajar dari mereka”. Pernyataan nomor 19: “menurut saya dari segi ekonomi, honorarium tutor Program PGSD kurang memadai”. Pernyataan nomor 21: “honorarium tutorial Program PGSD cepat dan lancar sehingga membuat saya senang menjadi tutor PGSD”. Pernyataan nomor 22: “honorarium tutorial Program PGSD kecil dan lambat keluarnya membuat saya tidak senang”. Pernyataan nomor 24: “honorarium tutorial Program PGSD tidak sesuai dengan jerih payah saya”. Pernyataan nomor 27: “ menjadi tutor Program PGSD UT cukup terpandang dalam masyarakat sekitar”. Pernyataan nomor 28: “menjadi tutor Program PGSD kurang dihargai masyarakat”. Pernyataan nomor 31: “tempat penyelenggaraan tutorial Program PGSD tidak menyenangkan karena di lokal SD setempat.  Pernyataan nomor 33: “tempat tutorial Program PGSD sebaiknya di ibukota propinsi/kabupaten atau kecamatan yang mudah dijangkau oleh alat transportasi umum”. Dan pernyataan nomor 34: “tempat tutorial Program PGSD jauh dari ibukota propinsi/kabupaten sehingga kurang memotivasi”. Dari pernyataan-pernyataan yang mendapat skor rendah tersebut dapat dikatakan bahwa para tutor cenderung memiliki sikap tidak dapat memutuskan terhadap pernyataan yang diberikan.

Adapun pernyataan-pernyataan yang mendapat skor tinggi adalah pernyataan nomor 1: “jika saya diminta untuk menjadi tutor Program PGSD saya bersedia karena menambah wawasan saya dalam mengajar”. Pada pernyataan ini semua responden menyatakan setuju untuk menjadi tutor bila mereka diminta. Pernyataan nomor 2: “jika saya diminta untuk memberikan tutorial pada Program PGSD saya tidak mau karena tutorial merupakan pekerjaan yang membosankan”. Sesuai dengan pernyataan nomor 1, pada pernyataan nomor 2 ini, mereka memberikan skor tinggi karena mereka beranggapan tutorial itu bukan merupakan pekerjaan yang membosankan. Pernyataan nomor 3: “saya suka memberikan tutorial pada Program PGSD karena yang dihadapi adalah orang dewasa”. Memang kenyataan para mahasiswa adalah orang dewasa semua. Pernyataan nomor 4: saya tidak suka memberikan tutorial pada Program PGSD UT karena mahasiswa sudah tua dan sulit mengerti”. Pernyataan nomor 5: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD sebaiknya dilakukan seperti kuliah saja”. Pernyataan nomor 6: “saya berpendapat bahwa tutorial Program PGSD perlu ditingkatkan kualitasnya”. Pernyataan nomor 7: “bagi saya, membimbing mahasiswa PGSD cukup menyenangkan karena mereka sudah dewasa dan cepat mengerti”. Pernyataan nomor 8: “bagi saya membimbing mahasiswa PGSD sangat membosankan karena mereka sulit mengerti”. Pernyataan nomor 10: “saya tidak senang membimbing mahasiswa PGSD karena banyak menyita waktu saya”. Pada pernyataan ini, semua tutor senang memberikan bimbingan kepada para mahasiswa. Pernyataan nomor 11: “jika saya diminta untuk membimbing mahasiswa PGSD saya bersedia karena dapat meningkatkan keterampilan saya”. Pernyataan nomor 12: “saya tidak mau menjadi pembimbing mahasiswa PGSD walaupun diminta”. Pernyataan nomor 13: “menjadi tutor Program PGSD merupakan suatu profesi yang membanggakan”. Pernyataan nomor 14: “menjadi tutor Program PGSD merupakan profesi yang tidak dapat diandalkan”. Pernyataan nomor 15: “saya suka menjadi tutor Program PGSD karena sesuai dengan profesi saya sebagai dosen/guru/tenaga pendidik”. Jadi dapat dikatakan bahwa para tutor Program D2 Proyek setuju untuk menjadi tutor karena sesuai dengan profesi mereka. Pernyataan nomor 16: “saya kurang suka menjadi tutor Program PGSD karena menjadi tutor hanya sewaktu dibutuhkan saja”. Pernyataan nomor 18: “saya tidak bisa mengatasi masalah yang muncul dalam tutorial”. Pernyataan nomor 25: “saya tidak suka menjadi tutor Program PGSD karena sudah capak tidak mendapatkan angka kredit kenaikan pangkat”. Pernyataan nomor 26: “saya senang memberikan tutorial pada Program PGSD karena angka kreditnya cukup lumayan”. Pernyataan nomor 29: “kalau menjadi tutor Program PGSD, saya lebih senang disebut dosen daripada tutor”. Pernyataan nomor 30: “tutor Program PGSD sangat dihormati pengelola dan mahasiswa”. Pernyataan nomor 32: “saya senang memberikan tutorial Program PGSD karena hubungan antar tutor, pengelola dan UPBJJ sangat baik”. Pernyataan nomor 35: “tempat tutorial Program PGSD cukup layak bagi mahasiswa untuk belajar”. Dan pernyataan nomor 36: “tempat tutorial Program PGSD masih dapat dijangkau oleh transportasi/kendaraan umum”.

Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa para tutor Program D2 Penjaskes mendukung pernyataan tersebut.

Sikap Tutor S1 PGSD terhadap Program Tutorial PGSD

Sikap tutor S1 PGSD cenderung setuju dengan pelaksanaan program tutorial dengan skor rata-rata sikap adalah 4.13. Kecendrungan ini ditunjukkan oleh rendahnya skor penyataan nomor 29, 30, 31, 33 dan 34 dan tingginya skor pernyataan lainnya.

Pernyataan-pernyataan yang mendapat skor rendah adalah perrnyataan nomor 29: “kalau menjadi tutor PGSD saya lebih senang disebut dosen daripada tutor”. Pernyataan nomor 30: “tutor Program PGSD sangat dihormati oleh pengelola dan mahasiswa”. Pernyataan nomor 31: “tempat penyelenggaraan tutorial Program PGSD tidak menyenangkan karena di lokal SD setempat”. Pernyataan nomor 33: “tempat tutorial Program PGSD sebaiknya di ibukota propinsi/kabupaten atau kecamatan yang mudah dijangkau oleh alat transportasi umum”.  Dan pernyataan nomor 34: “tempat tutorial Program PGSD jauh dari ibukota propinsi/kabupaten sehingga kurang memotivasi”. Para tutor memberikan skor yang rendah untuk kelima pernyataan tersebut atau dapat dikatakan para tutor cenderung tidak dapat memutuskan terhadap pernyataan-pernyataan yang diberikan.

Adapun pernyataan-pernyataan yang mendapat skor tinggi adalah 31 pernyataan lainnya. Jadi dari 31 pernyataan yang diberikan sikap para tutor Program S1 PGSD cenderung mendukung pernyataan yang diberikan dalam kuesioner.

Perbedaan Sikap Tutor Program D2 Proyek, Swadana, Penjaskes dan S1 PGSD

Untuk melihat perbedaan sikap tutor D2 proyek, swadana, penjaskes, dan S1 PGSD telah dilakukan pengujian statistik dengan menggunakan ANOVA pembanding ganda Scheffe (Soejoeti, 1985: 122-123). Pengujian dilakukan pada taraf kepercayaan 95% (α = 0.05) dan hasil pengujian menunjukkan bahwa sikap tutor D2 PGSD proyek berbeda secara signifikan dengan sikap tutor D2 swadana. Tetapi di luar dugaan bahwa sikap tutor D2 tidak berbeda dengan dua kelompok lainnya, yaitu tutor D2 penjaskes dan S1 PGSD. Rata-rata skor sikap tutor D2 proyek 4.04, tutor D2 swadana 3.90, tutor D2 penjaskes 3.81, dan tutor S1 PGSD 4.13. Skor sikap tutor D2 proyek dan S1 PGSD lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor sikap tutor lainnya, atau dapat dinyatakan bahwa sikap tutor D2 proyek dan S1 PGSD lebih tegas dibandingkan dua kelompok lainnya, yaitu setuju dengan program tutorial PGSD.

Perbedaan sikap tutor D2 proyek dan tutor S1 PGSD, disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, para tutor D2 proyek hampir selalu mendapat penataran dari pengelola tingkat propinsi sehingga informasi yang diperlukan tutor cepat dapat diterima. Pelaksanaan tutorial sangat diperhatikan sekali oleh para pengelola daerah kecamatan/kota/kabupaten, mengingat para pengelola propinsi adalah atasan para pengelola kecamatan/kota/kabupaten. Kedua, pengelolaan keuangan lebih jelas. Dana atau honorarium yang diterima oleh para tutor biasanya sudah ada blanko tempat tanda tangan. Ketiga, proses tutorial mendapat pemantauan dari proyek PGSD di tingkat propinsi. Keempat, untuk honorarium tutor S1 PGSD dikelola oleh UPBJJ dan mereka adalah para dosen universitas pembina dan dosen UT di UPBJJ. Pengelolaan keuangan cepat dan sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan. Empat kemungkinan itulah yang menyebabkan sikap tutor D2 proyek dan S1 PGSD menjadi lebih tegas dibanding dua kelompok tutor lainnya.

Kalau kita perhatikan pernyataan nomor 20: “menurut saya honorarium Program PGSD merupakan tambahan yang cukup lumayan”. Di sini sikap tutor D2 proyek adalah 3.84 dan S1 PGSD 4.08, sedangkan sikap tutor D2 swadana adalah 2.53 dan D2 penjaskes 3.30. Jelas di sini honorarium tutor D2 proyek dan S1 PGSD merupakan tambahan yang lumayan dibandingkan dengan tutor D2 swadana dan D2 penjaskes.

Demikianlah gambaran tentang perbedaan sikap antara tutor D2 proyek, swadana, penjaskes dan S1 PGSD terhadap program tutorial.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan 

1.       Semua tutor Program D2 PGSD setuju dengan adanya program tutorial.

2.       Sikap tutor D2 proyek dan S1 PGSD lebih tegas dibandingkan dengan tutor D2 swadana dan D2 penjaskes. Hal ini terlihat dari rata-rata skor sikap untuk masing-masing kelompok.    

Saran 

1.       Para tutor hendaknya diberi insentif sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan dalam memberikan tutorial.

2.       Honorarium tutorial Program PGSD perlu peningkatan dalam jumlah terutama untuk Program D2 swadana dan penjaskes.

3.       Kualitas tutorial perlu mendapatkan peningkatan dengan pengelolaan yang lebih baik, tutorial yang lebih intensif.

4.       Sudah saatnya pengelolaan D2 proyek, swadana, dan penjaskes hendaknya sejalan dengan pengelolaan S1 PGSD. 

DAFTAR RUJUKAN 

Azwar, S. (1998). Sikap manusia: Teori dan pengukurannya. Edisi ke-2. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Dryden, G & Vos, J. (1999). Revolusi cara belajar: Belajar akan efektif kalau Anda dalam keadaan fun. Terjemahan oleh Penerbit Kaifa. Cetakan 1. 2000. Bandung: Kaifa

Hajaroh, M. (1998). Sikap dan perilaku keagamaan mahasiswa Islam di Daerah Istimewa Yokyakarta. Jurnal Penelitian dan Evaluasi. 1 (1): 19-32.

Mardianto. (2000). Sikap dosen Sumatera Utara terhadap Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Skolar Jurnal Pascasarjana UNDP: Filsafat, Teori, Analisis dan Inovasi Pendidikan. 1 (1):14-29.

Martini, E.S. (1994). Sikap mahasiswa PGSD terhadap Program Setara D-II UT: Studi kasus di Kabupaten OKI Sumatera Selatan. Buletin Universitas Terbuka. 9:13-21

Mueller, D.J. (1992). Mengukur sikap sosial: Pegangan untuk peneliti dan praktisi. Terjemahan oleh Eddy Soewardi Kartawidjaja. Cetakan pertama. Jakarta: Bumi Aksara.

Soejoeti, Z. (1985). Buku materi pokok Metode Statistika II. Jakarta: Universitas Terbuka

Universitas Terbuka. (2001). Bahan ajar Program Akreditasi Tutor Universitas Terbuka. Jakarta: PAU-PAI Universitas Terbuka

Universitas Terbuka, (2002). Panduan pengelolaan Program PGSD. Jakarta: Depdiknas Universitas Terbuka.

Wardani, IGAK. (1992/1993). Buku materi pokok pendukung penataran tutor PGSD: Peningkatan peranan tutor dalam pelaksanaan tutorial. Jakarta: Depdikbud Ditjendikdasmen Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependudukan.

Winataputra, US & Wardani, IGAK. (1992/1993). Beberapa model kegiatan tutorial untuk kelompok belajar mahasiswa dan mengelola tutorial secara efektif. Jakarta: Depdikbud Ditjendikdasmen Proyek Peningkatan Mutu Guru SD Setara D-II dan Pendidikan Kependudukan.